Senin, 29 Oktober 2012

Robert King Merton

Sebuah tradisi dalam pemikiran sosiologi yang lazim disebut dengan fungsionalisme structural,analisis fungsionalisme dan teori fungsionalisme,adapun konsep-konsep dan ide mendasar dari tokoh pengikut aliran fungsionalisme itu mengasumsikan bahwa seluruh struktur social atau setidaknya yang diprioritaskan ,menyumbang terhadap suatu integrasi dan adaftasi system yang berlaku.Eksistensi dan kelansungan struktur atau pola yang telah ada dijelaskan melalui konsekuensi-konsekuensi atau efek-efek yang keduanya diduga perlu dan bermanfaat terhadap permasalahan masyarakat. 

Oleh merton membedakannya atas fungsi manifes dan funsi laten .Oleh penganut fungsinalisme structural memnadang bahwa segala sesuatu dalam masyarakat serba fungsional dalam artian positif dan negatif,misalnya salah seorang penganut aliran ini mengatatakan kemiskinan saja fungsional dalam suatu system,hanya saja perlu dipertanyakan fungsional bagi siapa ?sebab bagi simiskin itu sendiri jelas disfungsional. 

Analiasa fungsional memberikan suatu kerangaka untuk melihat dilemma-dilema kebijaksanaan soial.meskipun fungsionalisme merupakan suatu persfektif yang abstrak dan sangat umum .Untuk pola prilaku tertentu apa saja yang sudah meluas ,apa konsekuensi social atau pengaruh umu terhadap system yang lebih luas dimana pola itu terdapat.Secara praktis setiap pola prilaku yang sesuai atau menyimpang ,setiap kebiasaan atau norma, setiap keputusan kebijaksanaan yang besar ,setiap nilai budaya dapat dianalisa dengan istilah-istilah atau kerangka fungsional.Artinya hal tersebut dapat dianalisa menurut konsekuensi-konsekuensi social umumnya. Konsekuensi-konsekuensi social ini sering dinilai apakah menyumbang pada kesejahteraan atau daya tahan masayarakat atau justru merusakkanya.Tujuan untuk menilai konsekuensi social dari prilaku individu sangat mendasar

MERTON DAN FUNGSIONALISME TARAF MENENGAH 

Merton adalah seorang ahli sosiologi terkemuika masa mini yang kritis terhadap gaya berteori Parsons yang abstrak dan agak muluk.Dia adalah salah seorang murid Parson yang pertam di Universitas Harvard dimana dia menerima ph Dpada tahun 1936.Sejak awal tahun 40 an dia bekerja di Universitas Columbia ,dia banyak bekerja sama dengan paul K.Lazarsfeld dalam sejumlah proyek peneliian empiris.Karya Merton mencerminkan suatu kepekaan yang lebih bear terhadap hubungan dinamis antara penelitian empiris dan proses berteori dari pada Parson,darisegi teori Merton sudah membuatanya menjadi terpandang sebagai seorang penganalisa fungsional terkemuka sosiologi masa kini.Merton mengembangkan teori taraf menengah teori yang terletak diantara hipotesa kerja yang bekembang semkain besar dalam gerak penelitian .Teori taraf menengah pada dasarnya digunakan untuk membimbing penelitian empiris. 

1. Strategi dasar dari analisa fungsional taraf menengah 

Pendekatan fungsional merupakan suatu strategi untuk analisa yang memberikan suatu bimbingan yang harus mampu berada dalam kesatuanya sendiri yang didukung oleh data empiris.Mungin pada akhirnya teori taraf menengah dapat diastukan dalam teori yanglebih luas namun apakah tteori taraf menengah dapat menghasilkan hipotesa-hipotesa prediktif yan dapat diuji secara empiris. 

Merton menekankan pada suatu tindakan yang berulang kali dan baku yang berhubungan dengan bertahannya suatu system social dimana tindakan itu berakar Merton tidak menaruh perhatian pada orientasi subyektif undividu yang terlibat dalam tindakan terebut melainkan pada konsekuensi-konsekuensi social obyeknya.Merton mencoba memaparkan satu contoh persyaratan dasar suatu masyrakat adalah para anggotany tetap ada dengan jalan reproduksi ,apabila anggota masyarakat memiliki anak blum menjamin akan bertahan dalam jangka waktu yang panjang.Motivasi mereka lebih bersifat pribadi seperti keinginan untuk menyatakan cinta,keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan social .Dalam memenuhi kegiatan keagamaan individu tidak didorong oleh suatu keinginan apapun untuk memenuhi fungsi latent pattern maintenance ataupun untuk meningkatkan solidaritas social sebaliknya motif-motif itu bersifat pribadi ,seperti memnuhi kewajiban agama,memperoleh keselamatan dan ketentraman jiwa atau menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang sudah mapan.Pembedaan antara motif dan fungsi atau konsekuensi social adalah seperti yang digambarkan olem Merton bahwa terdapatnya motif yang orientasinya subyektif mengarahkan kepada suatu tindakan yang lahirnya suatu konsekuensi-konsekuensi untuk suatu system social.Merton mengatakan tentang adanya pemedaan yang tajam antara fungsi manifes dan fungi laten. 

Merton memperingatkan bahwa analisa funsional tidak boleh mengasumsikan bahwa semua pola tindakan baku harus mempunyai konsekuensi yang menguntungkan system itu atau memenuhi prasyarat fungsional ,banyak tindakan dapat mempunyai konsekuensi yang disfungsional atau memperkecil penyesuaian terhadap system itu. 

Beberapa tipe tindakan bisa mempunyai konekuens-konsekuensi disfungsi ntuk jangka pendek dalam kasus lain mungkin ada suatu jarak waktu yang panjang sebelum konekuensi disfungsional itu menumpuk pada suatu titik dimana penyesuaian terhadap system itu dirusakkan contoh konsekuensi jangka pendek tindakan atau pengalaman yangmeningkatkan solidaritas dalam suatu kelmpoksegmental tertentu dalam suatu masyarakatsekaligus dapat meningkatkan ketegangan dan konflik dengan kelompok segmental lainnya. 

Adanya berbagai kepentingan yang saling bertentangan antar kelpmpok dan organisasi yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat kompleks serta kelangkaan sumber-sumber maka pola adaptasi yang fungsional untuk satu kelompok atau kelompok segmental dalam masyarakat mungkin disfungsional untuk yang lainnya misalanya penggunaan mesin pengganti buruh mungkin fungsional bagi pemakainya tapi disfungsional untuk kelas buru karena dapat meningkatkan pengangguran. 

Ahli teori fungsional dapat menunjukkan prasyarat-prasyarat fungsional tertentu hal ini tidak merupakan suatu dasar yang jelas bahwa prasyarat ini akan dipenuhi dengan cara tertentu apa saja.Hal ini menimbulkan konsep alternatif-alternatif fungsional ,struktur alternatif mungkin mampu mengisi prasayarat tertentu dengan sama efektifnya . 

Analisa fungsional tidak perlu harus terbatas pada penelitian mengenai mekanisme yang meningkatkan stabilitas atau mempertahankan struktur yang ada dari suatu system ,namun sebagian besar analisa fungsional parson dimaksudkan untuk menjelaskan stabilitas dan keteraturan social.Tetapi strategi yang lebih baik apakah konsekuensi-konsekuensi obyektif dari pola-pola tindakan tertentu atau struktur-struktur institusional menyumbang pada solidaritas atau merusakkannya. 

2. Disfungsi laten, masalah social,dan perubahan sosial 

Pembedaan antara konsekuensi fungsional dan disfungsional dapat digunakan dengan sangat efektif apabila digabungkan antara fungsi manifes dan fungsi laten.Selain fungsi manifes ada juga ada juga hasil sampingan yang tidak dimaksudkan yang bersifat disfungsional,baik terhadap system yang sama maupun terhadap system yang lainnya yang berhubungan dengan itu. 

Menerima konsekuensi disfungsional yang tidak terbayangkan dari pola yindakan social memperlihatkan suatu dimensi paradoks dalam kehidupan social yang lebih sering dihubungkan denga analisa dialektis daripada analisa fungsional,dimensi paradok ini merupakan kontradiksi antara maksud individu dan konsekuensi social obyektif tidak haya bersifat disfungsional tetapi benar-benar bertentangan dengan hasil yang dimaksud.Konsekuensi disfungsional seperti sering merupakan hasil kumpulan tindakan orang-orang pada suatu skala yang besar dalam masyarakat. 

Strategi yang umum mengenai analisa fungsional mengemukakan suatu pandangan mengenai proses social yang jauh lebih rumit daripada yang menekankan orientasi suyektif individu atau yang mengasumsikan bahwa struktur social yang ada dapat dijelaskan dengan memadai oleh sumbangannya pada pemenuhan persayaratan masyarakat.merton menyatakan bahwa sebagian besar analisa fungsional tidak berhasil melihat berbagai keberatan dan pembedaan yang terdapat dalam konsep fungsi laten, disfungsi, alternatif fungsional dan sebagainya. 

Merton menunjukkan tiga postulat yang berlaku khususnya dalam masyarakat yang kompleks yaitu: 

1. Postulat tentang kesatuan fungsional masyarakat.Intinya bahwa postulat ini merupakan asumsi berbagai struktur dan pola tidakan yang melembaga secara harmonis saling berhubungan dan menyumbang pada integrasi dan solidaritas serta persyaratan fungsional masyarakat itu secara keseluruhan. 

2. Postulat yang kedua adalah postulat fungsionalisme universal bahwa semua bentuk-bentuk social dan budaya mampunyai mempunyai fungsi positif. 

3. Postulat ketiga yang dikritik Merton adalah postulat keharusan bahwa struktur tertentu atau bentuk-bentuk institusional yang memenuhi suatu persayaratan fungsional harus ada . 

3. Contoh-contoh teori fungsional taraf menengah 

Merton memperlihatkan karyanya pada teori taraf menengah yang dipusatkan pada masalah khusus dan terbatas.Sebagian besar dari bukunya yang terkenal adalah social teori and social struktur berisikan serangkaian teori taraf menengah. 

1. Struktur social dan anatomi 

Merton beranggapan bahwa anatomi dan prilaku menyimpang dalam masyarakat di Amerika merupakan hasil dari ketegangan-ketegangan tertentu dalam struktur social.Khususnya da ketidaksesuaian untuk kelompok-kelompok populasi tertentu antara tujuan-tujuan materil dan okupasional yang ditekankan oleh kebudayaan Amerika. Ketidaksesuaian antara tujuan dan alat adalah disfungsional untuk kelompok populasi –populasi itu dimana ketidaksesuaian terdapat, dan konsekuensi ketidaksesuaian itu sering merupakan bentuk prilaku menyimpang. Apakah prilaku itu disfungsional untuk masyarakat?Teori Merton sering digunakan dalam hubungan dengan usaha mengasumsikan bahwa penyimpangan itu disfungsional untuk masyarakat namun beberapa bentuk penyimpanagan seperti penemuan produk baru atau cara memberikan jenis pelayanan baru mungkin fungsional untuk masayarakat. 

2. Kepribadian Birokratis 

Merton mengemukakan bahwa satu konsekuensi disfungsional dari kepercayaan yang terlampau besar terhadapa peraturan adalah bahwa kaum birokrat itu akhirnya melihat kepatuhan terhadap peraturan sebagai tujuan dan akibatnya mereka tidak mampu untuk menjawab tantangan situasi baru secara fleksibel.Dalam beberapa hal akibat ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan peraturan agar cocok dengan situasi baru adalah pencapaian tujuan utama dari organisasi,karena itu disini ada satu situasi disfungsional terhadap system yang sama yang tergantung pada tipe situasi yang sedang dihadapi . Namun sering para anggota suatu organisasi birokrasi merasa tersiksa karena kelakuan birokratis. 

3. Teori Kelompok Referens 

Karya Merton yang khas dari kelompok referens adalah pembedaan konseptual yang dibuatnya antara kelompok keanggotaan dan kelompok referens.kelompok referens adalah kelompok dimana dia adalah annggotanya,orang seperti itu cenderung untuk memenuhi norma kelompok itu dan menggunakan standar kelompok sebagai dasar penilaian diri. 

Randall Collins

Pada tahun 1975 Randall Colins menerbitikatkan buku berjudul Konflik Sociology. Buku ini dimaskkkan sebgai kerangka teoritis yang umum untuk sosiologis sebagai suatu disiplin ilmu ilniah dan mendasarkan nya pada landasan peri.laku kehidupan riil dari individu dan pola-pola interaksi ditingkat mikro. Colins sampai sejauh Ini merupakan seorang ahli teori yang paling mudah. Dia lahir tahun 1941, menerima pendidikan sarjana Di Universitas Harvard, dan meneriama doktornya dari universitas California Berkeley. Karir akademisnya sejauh ini sudah pernah di Universitas California San Diego, dan universitas Virginia di Charlottesville. Sturuktur sosial dalam perspektif Colins apakah ditingkat mikro, kelompok persahabatan atau ditingkat makro organisasi birokratis yang besar, misalnya hanya terdiri dari pola-pola interaksi yang dilulang-ulang.Pergaulan pola-pola interaksi itu sangat serimg terjadi karena manusia mampu mengingat interaksinya dimasa lampau dan mengantisipasi yang akan datang. Struktur sosial tidak mempunyai eksisitnsi objektif yang terpisah dari pola-pola interaksi yang berulang- ulang ini

DINAMIKA KONFLIK INTERAKSIONAL 

Colins secara eksplisit mengambil pandangan interaksionalisme simbol (dan fenemenologi) yang mengatakan bahwa m anusia dalam suatu dunia simbol dikonstruksikan secara sosial. Akibatnya kenyataan subyektif individu itu dirembukkan kembali secara terus menerus. Suatu sumber konflik yang utama dalam kehidupan sosial hasil adari usaha manusia untuk mempengaruhi atau mengontrol definisi-defenisi dari ornga lain untu memperbesar keruntungan pribadinya dalam perjumpaan atau pertemuan antar pribadi. 

Pada tingkat mikro stratifikasi tercernin dalam hubungan dominasi dan kepatuhan. Pada tingkat makro stratifikasi itu tercermin dalam perebedaan kontrol atas berbagai macam sumber oleh kelomok-kelompok yang berbeda atau kategori-kategori orang. Pada tingkat mikro hubungan dominasi dan kepatuhan disimbolkan oleh ritus-ritus rasa hormat , dimana orang yang statusnya rendah diharpakan untuk demikian juga sikap pada umumnya apabila mereka berinteraksi dengan orang yang tinggi statusnya, dalam keadaan dimana tidak ada konflik terbuka. 

Selaian analisa mengenai proses ditingkat mikro, Colins berusaha untuk menjelaskna proses-proses sosial dalam organisasi yang sangat kompleks dan institusi sosial. Dia tidak membatasi didrinya pada konflik ekonomi, atau konflik dalam organisasi Birokratis. Modelnya ini relevan tidak hanya pada masyarkat industri modern tetapijug dengan masyarkat-masyarakt lainya serta tahap-tahap historis sebelunya. 

Colins juga menerima dan memperluas tekanan pada sumber-sumber materil untuk mempengaruhi posisi seseorang dalam sistem stratifikasi. Selain itu individud juga berbeda dalam kontrolnya terhadap alat produksi mental , produksi emosional dan kekerasan atau kekuasaaan memaksa alat produksi mental meliputi sistem pendidikan , misalnya : media massa seperti Colins katakan terciptanya solidaritas emonsional tidak menghentikan konflik melainkan merupakan salah satu alat utama yang digunakan dalam konflik . upacara-upacara emosional dapat digunakan untuk dominasi dalam suatu kelompok atau organisasi. Upacara-upacara itu merupakan wahana dengan mana persekutuan dibentuk dalam lperjuangan kelompok-kelompok lain dan upacara-upacara itu dapat digunakan untuk menentukan hirarki prestise status dimana beberapa kelompok mendominasi kelompok- kelompok lainnya dengan memberikan sesuatu yang ideal untuk menyamai kondisi-kondisi bawahan. 

Colind menekankan bahwa ancaman akan kekerasan atau paksaaan selalu lmeresakan selalu merupakan elemen yang potensial dalam setiap konflik. Dalam analisis akhirnya pembenaran idelogis untuk suatu persebaran otoritas tertentu atau hubungan emosioonal dengan masyarakat serta pemimpin-pemimpinnya tergantung pada persebaran perbedaan dalam alat paksaan kekerasan. 

RITUS INTERAKSI DAN INTERAKSI SOSIAL 

Sejalan dengan tekanannya pada proses-proses tingkat mikro, Colins menghubunkan tekanan Durkheim pada solidaritas ritual dengan analisa Gofman mengenai strategi-strategi yang digunakan dalam mementaskan penampilan-penampilan interaksional. 

Dalam sintesa Colins meskipun Gofman tidak membahas sturuktur sosial secara sistematis analisanya mengenai ritus sehari-hari dapat disatukan dengan pandangan Durkheom bahwa kenyataan masyaarkat itu sendiri tergantung pada ikatan solidaritas emosional yang diciptakan dan diperkuat melalui ritus-ritus. Sesungguhnya masyarkat tidak ada sebagai kenyataan objektif melainkan sebagai definis-definisi subjektif yang dimiliki bersama yang diciptakan dan dipertahankan melalui interaksi. 

Colins menekankan bahwa ritus-ritus interaksi ditingkkat mikro yang digambarkan oleh Gofman, mengungkapkan dan memperkuat sistem stratifikasi masyarakat. Misalnya mereka yang berada dalam posisi dominasi biasanya akan memperhatikan ketaatan ornga pada ritus yang memperlihatkan secara d ramatis dominasinya, danmemelihara serta mmperkuat ikatan emosional dari pada sub ordinat dengan keteraturan sosial yang ada. Ritus0-ritus seperti ini membantu meperkuat legitimasi persebaran kekuasaan dan ororitas yang ada. 

PEKERJAAN DAN HUBUNGAN OTORITAS 

Colins menekankan pekerjaan ( Occupation) sebagai aktor menentu utama terhadapa posisi kelas seseorang. Colins sejalan dengan Dahrendorf dalam melihart struktur otoritas dimana individu terliebat dalam pekerjaan sebagai dimensi paling penting untuk posisi kelan dan pandangan subyektif umunnya a dari orang itu atau kesadaran kelasnya. Colins menulis pasti perbedaan yang paling penting diantara situasi-situasi kerja adalah hubungan kekuasaan yang terdapat didalamnya( cara orang memberikan dan menerima perintah). Kelas-kelas berdasarkan pekerjaan pada intinya merupakan kelas-kelas kekuasaan dalam duni pekerjaan. 

Ada tiga kategori kelompok okupasional yaitu: pada lapisan atas hirarki itu adalah mereka yang memberikan perintih pada banyak orang, tetapi menerima perintah dari sedikit orang atau sama sekali tidak ada. Tingkat penengahan adalah mereka yang memberi perintah pada beberapa orang tetapi juga menerima perintah dari orang lain pada tingkat bawah adalah orang-orang seperti mandor, yang memberikan perintah pada bawahan yang sebenarnya menjlankan tugas-tugas fisik dari pada lain lagi diantara yang memberi dibawahnya. Perbedaan penting lainnya berhubungan dengan perbedaan dalam ratio antara yang memberi dan menerima perintah. Orang-orang itu lebih cenderung mempunyai kontak sosial yang luas diluar kelompok atau organisasi itu dimana mereka lebih dominan. Hal ini mempermudah kemampuan mereka untuk mempermudah kontrol atas sumber –sumber untuk mengkordinasi berbagai kegiatan para subordinatnya. 

Colins menggambarkan kebudayaan ini sebagai yang bersifat lokalistik sinis dan berorintasi pada masa kini. 
DINAMIKA KELOMPOK STATUS 

Colins mengemukakan bahwa orang-orang pada umumnya memulai dan mempertahankan hubungan sosial yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan atau memperbaiki status subyektifnya sebesar-besarnya. Ini berarti bahwa individu-individu memilih teman yang akan menerima identitas dirinya dan definisinya mengenai kenyataan sosial , dukungan sosial timbal balik harus diberikan dalam pertukaran. Kelompok status muncul dari usaha mereka yang memiliki sifat-sifat yang sama untuk saling memberikan dukungan sosial dan mempertahankan klaim statusnya melawan mereka yang berbeda. Kelompok- kleomok status tidak seluruhnya harus bersifat sederajat. Meskipun mereka yang termasuk dalam suatu kelompok status tertentu dapat mengklaim superioritas umunya atas mereka yang tidak masuk didalamnya, ada diferensiasi internal yang penting dalam bidang kekuasaan dan prestise dalam kelompok-kelompok status 

PENERAPAN MODEL INI 

Colins membuat proposisi semakin banyak orang yang diperintah dan semakin tampak syarat ketaatan yang dituntut, semakin dihormati dan semakin terkontrol perilaku non verbal seseorang ,mengenai pola sikap hormat ia mengatakan semakin tidak merata sumber-sumber kekuasaan seemakin tinggi keragaman komunikasi, semakin terinci ritus-ritus yang behubungan dengan sikap hormat, dan semakin kompleks standar yang diterapakan. Mengenai tingkat organisasi dia melihat semakin seseorng itu memberikan perintah atas nama suatu organisasi, semakin orng itu memihak pada organisasi itu, dan semakin besar seorang atasannya itu mengawasi perilaku bawahannya itu semakin besar bawahannya itu tunduk pada bentuk-bentuk perilaku dapat yang diamati yang dituntut dari padanya. Mengenai alat kekerasan semakin besar kepercayaan akan senjata-senjata mahal yang dipegang secara pribadi semakin perjuangan itu dimonopoli oleh suatu aristokrasi kastria-kastria yang independen, dan semakin besar pula staratifikasi masyarakat itu, dan semakin besar kepercayaan akan senjata-senjata mahal yang dipegang oleh suatu kelompok semakin besar pula tentaara mengambil bentuk hirerki komando sentral dan suatu kelompok subordinat yang terdiri dari tentara-tentara biasa. Sampel dari proposisi yang dirumuskan Colins ini dipilih dari beberapa daftar yang diberikan Colins dalam berbagai Bab itu.sampel ini memberikan gaya pembentukan proposisi yang eksplisit, selain itu proposisi-proposisi yang diambil iltu secara singkat merangkum banyak yang sudah kita diskusikan mengenai perspektif teoritis Colins secara keseluruhan.

Ralf Dahrendorf

Teori konflik bertujuan mengatasi watak yang secara dominant bersifat arbitrer dari peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak dapat dijelaskan, dengan menurunkan peristiwa-peristiwa tersebut dari elemen-elemen steruktur sosial. Dengan kata lain, menjelaskan proses-proses tertentu dengan penyajian yang bersifat ramalan. Konflik antara buruh dan majikan memang memerlukan penjelasan, tetapi yang lebih penting ialah menunjukkan bukti bahwa konflik yang demikaian didasarkan oleh susunan struktur tertentu, yang oleh karenanya dumanapun cenderung melahirkan susunan structural sebagai yang telah ada. Dengan demikian yang menjadi tugas sosiolog ialah melihat hubungan konflik dengan struktur sosial tertentu dan bukan menganggapnya berhubungan dengan variabel-variabel psikologis (‘sifat-sifat agresif’) atau variable histories deskriftif (masuknya orang Amerika Serikat) atau pada unsure kebetulan. 

Ralf Dahrendorf mengunakan teori perjuangan kelas Marxian untuk membangun teori kelas dan pertentangan kelasnya dalam masyarakat industri kontemporer. Bagi Dahrendorf kelas tidak berarti pemilikan sarana-sarana produksi (seperti yang dilakukan oleh Marx) tetapi lebih merupakan pemilikan kekuasaan, yang mencakup hak abasah untuk menguasai orang lain. Perjuangan kelas dalam masyarakat modern, baik adalam prekonomian kapitalis maupun komunis, dalam pemerintahan bebas dan totaliter, berada di seputyar pengendalian kekuasaan. 

Dahrendorf melihat kelompok-kelompok pertentangan sebagai kelompok yang lahir dari kepentingan-kepentingan bersama para individu yang mampu berorganisasi. Dahrendorf menguraikan proses ini melalui mana perubahan kelompok semu menjadi kelompok kepentingan mampu memberikan dampak pada struktur. Lembaga-lembaga yang terbentuk sebagai hasil dari kepentingan-kepentingan itu merupakan jembatan di atas mana perubahan sosial terjadi. Berbagai usaha harus diarahkan untuk mengatur pertentangan-pertentangan sosial melalui institusionalisasi yang efektif daripada melalui penekanan pertentangan itu. Teori Dahrendorf jelas merupakan suatu teori masyarakat yang bersifat parsial. Lewat reori itu dia menunjukkan bagaimana organisasiorganisasi dapat dan benar-benar lahir dari pertentanga kelas. Hakikat manusia dan hakikat sosiologi. Sasaran studi sosiuologi adalah manusia sosial (yang dibedakan dengan ekonomis, psikologis, moral, dan sebagainya). Di saat yang sama para ahli sosiologi harus menyadari segisegi lain manusia atau mereka akan menggambarkan manusia abstrak yang tidak relevan dengan dunia nyata.

1. Implikasi Fungsionalis Versusu Marxis Dalam Pendekatan Dahrendorf 

Tekan Dahrendorf pada struktur otoritas lebih dari pada pemilikan alat reproduksi materiil memperlihatkan suatu pergeseran yang penting dari posisi Marx. Dahrendorf seperti Weber, mengakui pentingnya pembedaan antara kekuasaan (kemampuan untuk memaksakan kemauan seseorang meskipun mendapat perlawanan) dan otoritas (hak yang sah untuk mendapatkan kepatuhan). Meskipun kekuasaan dan otoritas dapat digabungkan dalam hubungan tertentu, perhatian Dahrendorf umumnya adalah pada struktur otoritas, bukan hubungan kekuasaan murni. Dalam pandangannya, kontrol atas alat reproduksi mencerminkan struktur otoritas yang melembaga dan bukan dominasi yang semata-mata didasarkan pada kekuasaan. 

Perbedaan yang mencolok antara Dahrendorf dan Parson bukan bahwa Dahrendorf membangun teorinya atas dasar Marxis yang sudah di revisi: perbedaan sesungguhnya adalah bahwa Dahrendorf menekankan kepentingan-kepentinagan yang saling konflik melekat dalam hubungan apa saja antara mereka yangf menggunakan otoritas yang sah dan mereka yang tunduk padanya, sedangkan Parson menekankan consensus yang mendasar yang terkandung dalam pengertian legitimasi. Jadi, meskipun Dahrendorf banyak menggunakan gaya retorika Marx serta tterminologinya yang berhubungan dengan pembentukan kelas, kesadaran kelas, konflik kelas dan sebagainya. Pokok permasalahan dasar dari persfektif sangatlah berbeda dari Marx dan ada miripnya dengan parson. Tetapi Dahrendorf benar-benar mengikuti Marx dalam menerima model dua kelas dalam struktur sosial, paling kurang sejauh kita melihat hubungannya dengan dinamika konflik. 

Dahrendorf menolak implikasi filosofis dari pandangan Marx mengenai “kesadaran palsu” meskipun dia mengakui bahwa individu mungkin tidak sadar akan kepentinagan kelasnya yang bersifat objektif yang disebutnya dengan “kepentingan laten” (laten interest). Sebaliknya kepentingan kelas yang disadari oleh individu terutama kalau kepentingan itu dengan sadar di kejar sebagai tujuan di sebut dahrendorf dengan :kepentingan manifest”. Kalau kepentingan itu bersifat laten, maka kepentingan itu tidak dapat merupakan dasar yang jelas untuk pembentukan kelompok. Jadi, para anggota dalam asosiasi yang di koordinasikan secara imperative. Itu yang memiliki kepentingan laten yang sama dapat dipandang sebagai “kelompok semu” (guasi group). 

2. Munculnya Kelompok Kepentingan Konflik 

Salah satu tujuan Dahrendorf yang utama adalah menjelaskan kondisi dimana kepentingan laten itu menjadi manifest dan kelompok semu itu dapat diubah menjadi kelompok kepentingan yang bersifat konflik. Kondisi ini dikalasifikasi sebagai: 

1. Kondisi teknis 

Dalam kondisi teknis Dahrendorf mendiskusiakan munculnya pemimpin dan pembentukan ideology. Keduanya dianggap penting dalam pembentukan kelompok konflik dan tindakan kolektif, 

2. Kondisi politik 

Dalam kondisi politik Dahrendorf menekankan tingakat kebebasan yang ada untuk bentukan kelompok akan tindakan kelompok. Pada tingkat masyarakat, suatu ekstrim dapat dapat kita lihat dalam pemerintahan totaliter yang dengan keras melarang terbentuknya partai-partai oposisi atau tipe asosiasi sukarela lainnya. 

3. Kondisi sosial 

Kondisi sosial terutama meliputi langkah komunikasi antar anggota dari suatu kelompok semu. Kondisi ini: kepemimpinan, ideologi, kebebasan politik yang minimal, dan komunikasi internal merupakan prasayarat dasar untuk pembentukan kelompok “konflik ini berarti: bahwa kalau sala satu dari elemen” ini tidak ada di antara anggota suatu kelompok semu, suatu kelompok konflik tidak akan terbentuk. Kondisi-kondisi ini meskipun perlu untuk pembentukan kelompok konflik, tidak menjamin bahwa suatu kelompok konflik akan terbentuk. Ada juga persyaratan psikologis tertentu atau persyaratan sosial psikologis. Salah satu yang paling pokok adalah hanya persyaratan bahwa kepentinagn yang laten itu menjadi manifest. 

Faktor penting lainnya yang mempengaruhi kemungkinan kesadaran kelas dan tindakan kelas dalah tingkat konsisitensi posisi kelas individu dalam asosiasi yang berbeda. Tetapi individu secara khas termasuk dalam berbagai asosiasi yang berbeda (asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif untuk menggunakan terminology Dahrendorf). Beberapa keterlibatan organisasional dapat merupakan sum,ber status yang rendah, individu berbeda menurut apakah statusnya konsisten atau tidak dalam berbagai organisasi di man mereka terlibat. Beberapa masyarakat mungkin diorganisasi sedemikian rupa sehungga ada konsisstensi yang tinggi dalam posisi “dari orang” dalam berbagai asosiasi di mana mereka termasuk. Ini berarti individu yang berada dalam posisi subordinate dalam suatu organisasi juga berada dalam posisi subordinate dalam asosiasi yang lain. 

Bertentangan dengan pola konsisitensi ini, Dahrendorf menunjukkan pola “pluralistik” dimana ada suatu tingkat pergantian posisi individu yang jauh lebih kecil dalam suatu organisasi di bandingkan dengan organisasi lainnya. Artinya individu mungkin rendah posisinya dalam suatu asosiasi dan tinggi dalam asosiasi lainnya. Dakrendorf mengemukakan bahwa semakin tinggimtingkat konsisitensi, semakin besar pula kemungkinan bahwa kesadaran kelas akan berkembang dan tindakan kelas dijalankan. 

3. Intensitas dan Kekerasan Konflik 

Intensitas dan kekerasan dilihat sebagai dua dimensi konflik kelas yang berbeda secara analitis. Intensitas menunjukkan pada pengeluaran energi dan tingkat keterlibatan dari piahak yang berkonflik. Apakah individu terlibat secara penuh dalam suatu konflik tertentu atau apakah konflik itu kecil mencerminkan pentingnya hasil untuk mereka yang terlibat di dalamnya. Berlawanan dengan intensitas, konsep kekrasan menunjuk pada alat yang digunakan oleh pihak yang saling bertentangan itu untuk mengejar kepentingannya. Tingkat kekerasan dapat sangat bervariasi, mulai dari negosiasi yang penuh ketenangan sampai kekerasan terbuka termasuk serangan fisik atas manusia atau miliknya. Kalau intensitas dan kekerasan konflik berhubungan satu sama lain, dahrendorf berpendapat bahwa variabel-variabel ini secra konseptual berbeda dan dapat bervariasi. 

Dua variabel utama yang mempengaruhi intensitas adalah tingkat keserupaan konflik di berbagai asosiasi yang berbeda serta tingkat mobilitas. Umumnya intensitas akan tinggi kalau ada suatu tingkat keserupaan yang tinggi pula. Dalam situasi serupa energi yang dikeluarkan dalam konflik di dalam asosiasi yang berbeda disatukan. Dan isu konflik itu sendiri menjadi satu dalam front yang luas yang melampaui batas asosiasional tertentu. Dalam kasus yang ekstrem, masyarakat sebagai suatu keseluruhan di bagai dalam dua kelompok besar yang saling bermiusuhan , dengan konflik yang mendalam yang menelan banyak energi dari sebagian besar masyarakat. Selain itu, kesempatan untuk konflik yang luas dan mendalam dari tipe ini akan menjadi semakin besar kalau tak astu pun dari asosiasi yang terlibat ini memberikan kesempatan untuk mobilitas ke atas. 

Intensitas dan kekerasan konflik dipengaruhi oleh persebaran penghargaan, fasilitas, pemilikan dan status sosial umumnya. Justru karena hubungan otoritas dalam asosiasi yang berbeda-beda itu bisa sesuai satu sama lain, maka persebaran imbalan ekonomis dan keselamatan sosioekonomis dapat tumpang tindih dengan dengan persebaran otoritas. Pada umumya, semakin besar tumpang tindih atau konsistensi antara persebaran otoritas dan persebaran penghargaan materiil, jaminan ekonomis, status sosial dan sebagainya. Semakin besar pula intensitas konflik kelas. Apakah kekerasan itu juga lebih besar sejalan dengan tumpang tindih yang tinggi, tergantung pada apakah devriasi sosioekonomis yang ada ada dari mereka di kelas bahwa bersifat absolute atau relative. Dahrendorf mengemukakan bahwa kalau devriasi sosioekonomi dari mereka yang berada dalam kelas subordinat itu bersifat absolute, maka konflik kelas mungkin akan keras. Sebaliknya kalau devriasi itu hanya relatif singkat, konflik yang keras tidak mungkin terjadi meskipun intensitasnya tinggi. 

4. Pengaturan Konflik dan Kekerasan 

Variabel yang paling penting dalam model Dahrendorf yang mempengaruhi derajat kekerasan dalam konflik kelas adalah tingkat dimana konflik itu secara eksplisit diterima dan diatur. Pengaturan konflik sangat erat kaiatannya dengan kondisi politik yang memepengaruhi kesadaran dan pembentukan kelompok kepentingan yang bersifat konflik. Pada ekstrim yang satu mereka yang berada dalam posisi domunasi berusaha untuk mengangkat kenyataan atau validitas antagonisme atau konflik didasarkan pada kelas dan mereka boleh melarang terbentuknya kelompok kepentingan konflik. 

Tanpa meliahat bagaimana usaha seperti itu bermaksud untuk menekan konflik dapat dibenarkan, konflik dan antagonisme tidak dapat dilenyapkan. Keduanya tertanam dalam struktur hubungan otoritas itu. Usaha untuk menekan atau mengangkat hanya membuatnya tertekan ke bawah permukaan, di mana dia bisa mendidih perlahan dan menjadi panas yang tidak diketahui untuk jangka waktu yang lam. Tetapi pelan konflik yang terpendam itu meledak ke luar. Jadi, pola totaliter adalah suatu pola di mana usaha untuk menekan konflik itu secara periodic di selingi oleh meledaknya perang keras. 

Berlawanan dengan pola totaliter ini, mereka yang berada dalam posisi dominasi dapat menerima secara eksplisit adanya kepentingan konflik dan menyediakan saluran untuk menyatukan dan merembuknya secara periodic, pengukuran akan kepentingan yang saling bertentangan itu akhirnya mengakibatkan berkurangnya manifestasi konflik yang keras. Tetapi masyarakat demokratis sangat bertentangan dengan masyarakat totaliter, menurut pengakuan yang eksplisit akan adanya kepentingan yang bertentangan dan akan oengembangan mekanisme pengaturan konflik. Pengaturan seperti itu, menurut Dahrendorf mengurangi kemungkinan kekrasan. Pengaturan konflik itu di dasarkan pada pengakuan yang ekspisit akan kenyataan dan kenenaran adanya konflik, artinya kedua belah pihak dilihat sebagai memiliki kepentingan yang saling bertentangan secara sah. 

5. Konsekuensi Konflik: Perubahan Struktural 

Dahrendorf Membedakan tiga tipe perubahan structural : 
perubahan keseluruhan personel di dalam posisi dominasi 
perubahan sebagian personel dalam posisi dominasi 
di gabungkannya kepentingan-kepentingan kelas subordinat dalam kebijaksanaan kelas yang berkuasa. 

Dahrendorf mengemukakan bahwa perubahan structural berbeda-beda menurut sifat radikal dan sifat tiba-tibanya (sudden). Variabel-variabel, seperti intensitas dan kekerasn konflik, secara konseptual berbeda dan berdiri sendiri. Keradikalan menunjuk pada tingkat perubahan structural, baik yang berhubungan dengan personel dalam posisi yang berkuasa, kebijakan kelas yang berkuasa, maupun hubungan antar kelas secara keseluruhan. 

Dahrendorf menentukan bahwa pembentukan kelas dan konflik kelas dar persfektif Marx terjadi dalam kondisi-kondisi yang secara histories bersifat khusus 

6. Model Konflik versus Model Fungsional 

Dahrendorf meringkas teori funsionalis (atau kensensus atau integrasi) yang bertentangan dengan teori konflik sebagai berikut: 

Teori Fungsional: 
setiap masyarakata merupakan satu struktur elemen-elemen yang secara relative mantap dan stabil 
setiap masyarakat merupakan stau struktur elemen-elemen yang terintegrasi dengan baik 
setiap elemen dalam suatu masyarakat mempunyaui fungsi, yaitu memberkan sumbangann pada bertahannya masyarakat utu sebagai suatu system 
setiap struktur sosial yang berfungsi didsarkan pada suatu consensus nilai yang ada pada para anggotanya 

Teori Konflik 
setiap masyarakat kapan saja tunduk pada proses perubahan 
setiap masyarakat kapan saja memperlihatkan perpencahan dan konflik 
setiap elemen dalam suatu masyarakat menyumbang disintegrasi dan perubahan 
setiap masyarakat didasarkan pada paksaan dari beberapa anggotanya atas orang lain.