Tampilkan postingan dengan label Orasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Ternyata anda punya Utang 7jt, Tidak Percaya?

Apakah anda menyadari bahwan anda memiliki utang sebanyak 7 juta lebih? Iya 7 juta. Ternyata selama ini kita penduduk Indonesia memiliki utang lebih dari 7 juta rupiah. Masi tidak percaya?
Silahkan simak penjelasan berikut.

Pembangunan yang kita nikmati selama ini ternyata adalah cicilan. Atau belum sepenuhnya lunas. Kita masih punya utang. Utang dari pembangunan negeri ini. Negeri kita telah mengoleksi utang sebanyak Rp 1.900 Triliun atau Rp 1.900.000.000.000.000 dengan 16 digit. Mungkin kalkulator anda tidak dapat memuat nominal ini. Dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 259.940.857 jiwa maka
Jumlah Utang dibagi dengan jumlah penduduk

Rp 1.900.000.000.000.000 ÷ 259.940.857 = Rp 7.309.354.98

Berarti Tujuh Juta Tiga Ratus Sembilan Ribu Tiga Ratus Lima Puluh Empat koma Sekian Rupiah adalah utang kita.

Anda Sanggup Membayarnya?
Saya Tidak..... :(

Rabu, 26 Desember 2012

Disudut Hujan

Panas menjadi alasan
Bayang pun hidup menerpa ombak
bukan cerita yang membawa kami kesini
apalagi nafsu dalam bercerita
dengan sebatang rokok kami membentuk awan
hanya cerita yang tidak tersimak
di kaki ombak kami bernyanyi
buih bak tentara dan terus menggempur pasir

tak cukup kertas dalam menulis
ada tinta yang menjadi sia
selayang nak gambar tuan
terserah pada-Nya apapun  hilang

Senin, 29 Oktober 2012

Ironi yang panjang umur 2

sumber gambar: tempo.com
Delapan puluh tiga tahun lalu, Indonesia membentangkan namanya dalam Kongres Pemuda Indonesia. 28 Oktober 1928 Muhammad Yamin menuliskan rumusan sumpah pemuda yang menandai berakhirnya kongres. Kongres ini adalah jawaban atas pergerakan Nasionalisme yang tumbuh atas kesadaran akan ketertindasan pada zaman kolonial. Seharusnya pada hari itu pula kelahiran bangsa yang selama ini tempat kita berdiri.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Namun, Apa yang telah kita berikan untuk Tanah Air kita? Pajak? Apakah pajak yang kita bayar bebas dari manipulasi?. Partisipasi politik? Apakah kita telah berpartisipasi dengan tulus tanpa kepentingan pribadi atau golongan tertentu?. Saatnya kita menjadi pendobrak kemajuan bangsa memerangi kemiskinan dan kebodohan demi masa depoan Indonesia yang sejahtera.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Akan tetapi dalam realitasnya, banyak dari kita rela mati konyol dikarenakan masalah yang kemudian generalisasikan dalam etnisitas. Dimana etnisitas merupakan produk koonial yang masih dipertahankan sampai sekarang. Hal ini tentunya menghancurkan rasa ke-bhineka-an yang kita agung-agungkan.

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ironisnya kita masih miskin dalam ilmu bahasa kita sendiri. Dan lebih bangga dengan bahasa asing. menyekolahkan anak dengan biaya tinggi untuk dapat berbahasa asing. disisi lain sibuk (maaf) meng-“zina”-i bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia.

Ini adalah coretan picisan yang tercipta untuk merenungi kembali nilai yang ditanam-kan dalam sumpah pemuda. Sedikit kutipan dari soekarno yang juga merupakan pemuda proklamator, “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali”